WONG JOWO IN THE BLOG MENGUCAPKAN "SELAMAT TAHUN BARU MASEHI 2018", SEMOGA DITAHUN BARU INI GUSTI ALLAH SWT,BANYAK BERKAH DAN BAROKAH, SEHINGGA MENAMBAH KESEMPURNAAN HIDUP DAN IBADAH KITA, AMIN YA RABBAL ALAMIN

Wednesday, May 31, 2017

BLANGKON "TOPI JAWA"

pakaian lengkap jawa
Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional masyarakat Jawa.  yang merupakan bentuk praktis dari iket (pengikat) kepala. Sebab, pada zaman dulu, penutup kepala ini hanya berupa kain iket (ikat) yang terbuka di bagian atasnya. Iket bahkan sudah dikenal di awal terbentuknya budaya Jawa. Dalam legenda tentang Aji Saka, iket bahkan memiliki peran besar ketika Aji Saka berhasil mengalahkan Dewata Cengkar -seorang raksasa penguasa tanah Jawa. Sebutan Blangkon berasal dari kata blangko, istilah yang dipakai masyarakat Jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Menurut wujudnya, blangkon dibagi menjadi 4: blangkon Ngayogyakarta, blangkon Surakarta, blangkon Kedu, dan Blangkon Banyumasan. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Blangkon Surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya Yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.

Kebiasaan pemakaian iket ini mulai berubah ketika agama Islam masuk ke Tanah Jawa. Ajaran Islam yang menganjurkan para lelaki untuk menutup seluruh bagian kepala akhirnya melahirkan iket yang lebih rapi dalam menyembunyikan rambut panjang mereka, namun cara memakainya sangat rumit.
“Sebelum mengenakan iket, mereka harus menggelung atau menguncir rambut ke belakang. Kemudian iket dilipat hingga menutupi kepala sampai sebatas dahi dan atas telinga,” kata Ranggajati Sugiyatno, pakar blangkon di Solo. Ranggajati menambahkan kain iket ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 105 cm x 105 cm. Namun, kain yang digunakan sebenarnya hanya separo. Sebab, ukuran blangkon diambil dari jarak antara garis lintang dari telinga kanan dan kiri melalui dahi. Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. 

Pemakaian blangkon merupakan pengaruh dari budaya Hindu dan Islam yang diserap oleh orang Jawa. Menurut Wakil Pengageng Sasono Wilopo Kraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Pangeran Winarno Kusumo, orang Islam yang masuk ke Jawa terdiri dari dua etnis, yaitu keturuan Cina dari daratan Tiongkok dan para pedagang Gujarat yang merupakan keturunan Arab. Orang-orang Gujarat yang selalu mengenakan sorban -kain panjang dan lebar yang diikatkan di kepala- inilah yang kemudian member inspirasi orang Jawa untuk mengenakan iket.

Dalam perkembangannya, blangkon yang lahir setelah iket pun memberi tempat untuk gelung atau kuncir.“Namanya mondholan, yaitu tonjolan kecil di bagian belakang blangkon (Jawa). Jadi mondholan itu untuk tempat gelungan, bukan sebagai representasi karakter orang Jawa yang suka berbaik-baik di depan, tetapi nggrundel atau menyimpan perasaan, di belakang,” jelas Ranggajati yang sudah puluhan tahun menekuni pembuatan blangkon. Tentu saja, bentuk blangkon tidak pernah seragam di setiap daerah. Di Jawa, terdapat tiga jenis blangkon, yaitu: blangkon kejawen, pasundan, dan pesisiran. Jenis blangkon kejawen umumnya dipakai di daerah Banyumas, Bagelen, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Kediri, dan Malang.

Secara keseluruhan penempatan blangkon dikepala merupakan anjuran agar segala pemikiran yang dihasilkan dari kepala tersebut selalu membawa nilai-nilai keislaman. Dalam artian sebebas apapun pemikiran yang dihasilkan oleh otak, agama islam selalu menjadi mainstream. Jadi, segala pemikirannya akan berguna bagi orang banyak, tidak malah menyengsarakan. Juga berguna bagi seluruh alam sebagaimana islam yang rahmatan lil’alamin. 

Ranggajati melanjutkan blangkon juga sebagai simbol pertemuan antara jagad alit (mikrokosmos) dengan jagad gede (makrokosmos). Blangkon merupakan isyarat jagad gede karena nilai-nilai transendentalnya. Sedangkan kepala yang ditumpanginya merupakan isyarat jagad alit. Ini terkait dengan tugas manusia sebagai khalifatullah fi al-ardi yang membutuhkan kekuatan Tuhan. Karena itu, agar manusia mampu melaksanakan tugasnya dibutuhkan kekuatan Tuhan yang disimbolkan dengan blangkon.

“Pada zaman dulu, orang-orang Jawa banyak yang memakai blangkon karena kesadaran mereka sebagai hamba Tuhan dan khalifah di bumi. Zaman sekarang, banyak yang mengenakan blangkon karena mengikuti mode.”

Pada zaman dulu, blangkon hanya boleh dibuat oleh para seniman keraton dengan pakem (aturan) yang baku. Seperti halnya keris dan batik. Semakin blangkon yang dibuat memenuhi pakem, maka blangkon itu akan semakin tinggi nilainya.

Menurut Ranggajati, seorang pembuat blangkon membutuhkan virtuso skill atau keahlian keindahan. Keindahan blangkon, lanjut Ranggajati, selain dilihat dari pemenuhan pakem juga cita rasa sosial. Apalagi pakem blangkon sesungguhnya bukan hanya harus dipatuhi oleh pembuatnya, tetapi juga oleh para pemakainya.

“Dalam blangkon itu terksimpan nilai-nilai kehidupan sehari-hari seperti keindahan, ketekunan, ketelitian, dan kesabaran."

Tentang keindahan, kesabaran, dan ketelitian itu, Ranggajati mencontohkan, sebuah blangkon yang bagus bias memiliki 14 hingga 17 wiru (lipatan) yang rapi di kanan-kiri. Tanpa kesabaran dan ketelitian yang besar, sangat mustahil blangkon tersebut bisa diselesaikan. Keindahan blangkon juga bias dilihat dari kain batik selebar 105cm x 105cm sebagai bahan dasar blangkon.

Blangkon yang bagus, tentu bahan dasarnya juga harus bagus. Salah satunya kain yang dibatik tulis, bukan batik cap apalagi printing. Jangan heran jika harga satu “topi Jawa” terbaik harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. JIka memiliki niali sejarah, harganya bias lebih mahal lagi.

“Seperti halnya keris dan batik, semakin indah dan bersejarahnya blangkon akan membuat harganya semakin mahal,” ujar Ranggajati yang memiliki usaha busana tradisional Jawa di kawasan Keprabon, Solo.

Perbedaan blangkon
Berikut perbedaan blangkon yogjakarta dan surakarta :

1. Blangkon Yogyakarta
Blangkon gaya Yogyakarta mempunyai mondolan pada bagian belakang blangkon. Hal ini dirunut sejarah pada waktu itu laki-laki Yogya memelihara rambut panjang kemudian diikat keatas, kemudian ikatan rambut disebut gelungan kemudian dibungkus dan diikat, lalu berkembang menjadi blangkon.
Mondolan dibelakang juga dikaitkan dengan filosofi masyarakat jawa yang pandai menyimpan rahasia, tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri karena ia akan serapat mungkin dan dalam bertutur kata dan bertingkah laku penuh dengan kiasan dan bahasa halus, sehingga menjadikan mereka selalu berhati-hati tetapi bukan berarti berbasa-basi, akan tetapi sebagai bukti keluhuran budi pekerti orang jawa.
Dapat juga diartikan masyarakat Yogya pandai menyimpan rahasia dan menutupi aib, akan berusaha tersenyum dan tertawa walaupun hatinya menangis. Dalam pikirannya hanyalah bagaimana bisa berbuat yang terbaik demi sesama walaupun mengorbankan dirinya sendiri.
Khusus untuk Yogyakarta, blangkon kejawen dibedakan menjadi gaya utara dan selatan. Sementara dari bentuknya terdiri dari jebehan, cepet, waton, dan kuncungan. Perbedaan inilah yang kemudian melahirkan motif-motif blangkon, seperti adimuncung, tumpangsari, kuncungan, jeplakan, tempen, solomuda, pletrekan, solobangkalan, prebawan, tutup liwet, dan lain sebagainya
2. Blangkon Solo
Masyarakat Solo waktu itu lebih dulu mengenal cukur rambut karena pengaruh belanda, dan karena pengaruh belanda tersebut mereka mengenal jas yang bernama beskap yang berasal dari beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan.
Tidak adanya tonjolan pada blangkon hanya diikatkan jadi satu dengat mengikatkan dua pucuk helai di kanan dan kirinya mengartikan bahwa untuk menyatukan satu tujuan dalam pemikiran yang lurus adalah dua kalimat syahadat yang harus melekat erat dalam pikiran orang jawa.
Sedangkan untuk daerah Surakarta muncul beberapa jenis blangkon lagi, yaitu wironan atau mataraman, iket krepyak dan trepes.
3. Blangkon Kedu

Blangkon Kedu
Blangkon Kedu berasal dari daerah Jawa Tengah dengan berbentuk agak terepes, bagian atas tertutup dan memiliki pola batik terang khas Kedu.
4. Blangkon Banyumasan
Blangkon Banyumasan memiliki corak yang hampir mirip dengan batik Pekalongan. Sebagian besar memadukan kombinasi batik tulis dengan warna yang eksotis. Namun sayang, pengrajin blangkon Banyumasan ini tidak lagi setenar dan seproduktif blangkon Ngayogyakarta atau Surakarta. Meskipun begitu, masih ada pengrajin blangkon Banyumasan yang masih mempertahankan kekayaan tradisi Jawa ini, dia adalah Kaswanto. Dikenal sebagai seorang pioneer di dunia pengrajin blangkon banyumas. Terdapat beberapa jenis dan model blangkon yang diproduksinya, mulai dari blangkon khas Jawa Tengah sampai Jawa Timuran dan Bali. 
Sumber : Wikipedia Indoesia; Kesolo.com; ranggajati(penggrajin blangkon) 

Tuesday, May 30, 2017

PAKAIAN JAWA LURIK ATAU SURJAN

Pengertian

LURIK
Lurik atau surjaan merupakan nama kain, kata lurik sendiri berasal dari bahasa Jawa, lorek yang berarti garis-garis, yang merupakan lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000). Selain berfungsi untuk menutup dan melindungi tubuh, lurik juga memiliki fungsi sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan. Motif lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda dengan yang digunakan oleh rakyat biasa, begitu pula lurik yang dipakai dalam upacara adat disesuaikan dengan waktu serta tujuannya.
Surjan Lurik
Nama motifnya diperoleh dari nama flora, fauna, atau dari sesuatu benda yang dianggap sakral. Motif lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita, serta harapan kepada pemakainya. Namun demikian saat ini pengguna lurik semakin sedikit dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu. Perajinnya pun dari waktu ke waktu mulai menghilang.
Lurik menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997) adalah suatu kain hasil tenunan benang yang berasal dari daerah Jawa Tengah dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna-warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang. Kata lurik berasal dari akar kata rik yang artinya garis atau parit yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), lurik adalah kain tenun yang memiliki corak jalur-jalur, sedangkan dalam Kamus Lengkap Bahasa Jawa(Mangunsuwito:20 02) pengertian lurik adalah corak lirik-lirik atau lorek-lorek, yang berarti garis-garis dalam bahasa Indonesia.
Dan berbagai definisi yang telah disebutkan di atas, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lurik merupakan kain yang diperoleh melalui proses penenunan dari seutas benang (lawe) yang diolah sedemikian rupa menjadi selembar kain katun. Proses yang dimaksud yaitu diawali dari pembuatan benang tukel, tahap pencelupan yaitu pencucian dan pewarnaan, pengelosan dan pemaletan, penghanian, pencucuk-an, penyetelan, dan penenunan. Motif atau corak yang dihasilkan berupa garis-garis vertikal maupun horisontal yang dijalin sedemikian rupa sesuai warna yang dikehendaki dengan berbagai variasinya.
SURJAN
Surjan/sur·jan/ Jw. Adalah baju laki-laki khas Jawa berkerah tegak; berlengan panjang, terbuat dari bahan lurik atau cita berkembang Kata surjan merupakan bentuk tembung garba (gabungan dua kata atau lebih, diringkas menjadi dua suku kata saja) yaitu dari kata suraksa-janma (menjadi manusia). Surjan menurut salah satu makalah yang diterbitkan oleh Tepas Dwarapura Keraton Yogyakarta berasal dari istilah siro + jan yang berarti pelita atau yang memberi terang.  
Surjan Ontokusumo
Dikatakan (pakaian) surjan  berasal dari zaman Mataram Islam awal. Pakaian adat pria ini merupakan pakaian adat model Yogyakarta walaupun konon katannya Surjan merupakan pakaian khas dari kerajaan Mataram sebelum terpecah menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta. Surjan awalnya diciptakan oleh Sunan Kalijaga yang diinspirasi oleh model pakaian pada waktu itu dan selanjutnya digunakan oleh Mataram.
Surjan merupakan baju adat dari keraton mataram yang dicipta oleh SUNAN KALIJAGA berdasar QS Al-A’raf 26: ’’Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa (dimaksud agar selalu bertakwa kepada Allah SWT) itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
Oleh Sunan Kalijaga pengertian ayat diatas dijadikan model pakaian rohani (takwa) agar si pemakai selalu ingat kepada Allah SWT, kemudian oleh raja-raja Mataram pakaian takwa ini dipakai hingga sekarang ini.
Pakaian takwa sering disebut SURJAN (sirajan) yang berarti Pepadhang atau Pelita. Di dalam ajarannya HB I bercita-cita agar pimpinan Negara dan Penggawa Kerajaan memiliki Jiwa dan Watak SATRIYA, dimana tidak akan lepas dari sifat-sifat: Nyawiji, bertekad golong-gilig baik berhubungan dengan Allah SWT maupun peraturan dengan sesama. Sifat Greget (tegas bersemangat), Sengguh (percaya diri penuh jati /harga diri) dan sifat Ora Mingkuh, tidak melepas tanggung jawab dan lari dari kewajiban. Maka figur satriya Ngayogyakarta ideal yakni seseorang yang dilengkapi pengageman Takwa seperti Nyawiji Greget Sengguh Ora Mingkuh.
Pakaian surjan dapat disebut pakaian “takwa”, karena itu di dalam  baju surjan terkandung makna-makna filosofi, di antaranya: bagian leher baju surjan memiliki kancing 3 pasang (6 biji kancing) yang kesemuanya itu menggambarkan rukun iman. Rukun iman tersebut adalah iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada utusan Allah, iman kepada hari kiamat, iman kepada takdir.  Selain itu surjan juga memiliki dua buah kancing di bagian dada sebelah kiri dan kanan. Hal itu adalah simbol dua kalimat syahadat yang berbunyi, Ashaduallaillahaillalah dan Waashaduanna Muhammada rasulullah. Disamping itu surjan memiliki tiga buah kancing di dalam (bagian dada dekat perut) yang letaknya tertutup (tidak kelihatan) dari luar yang menggambarkan tiga macam nafsu manusia yang harus diredam/dikendalikan/ditutup. Nafsu-nafsu tersebut adalah nafsu bahimah (hewani), nafsu lauwamah (nafsu makan dan minum), dan nafsu syaitoniah (nafsu setan). (K.R.T. Jatiningrat, 2008, Rasukan Takwa lan Pranakan ing Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta: Tepas Dwarapura Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.)
Jadi jenis pakaian atau baju ini bukan sekadar untuk fashion dan menutupi anggota tubuh supaya tidak kedinginan dan kepanasan serta untuk kepantasan saja, namun di dalamnya memang terkandung makna filosofi yang dalam.
Surjan sendiri terdapat dua jenis yaitu surjan lurik dan surjan Ontrokusuma, dikatakan Surjan lurik karena bermotif garis-garis, sedangkan Surjan Ontrokusuma karena bermotif bunga (kusuma). Jenis dan motif kain yang digunakan untuk membuat surjan tersebut bukan kain polos ataupun kain lurik buatan dalam negeri saja, namun untuk surjan Ontrokusuma terbuat dari kain sutera bermotif hiasan berbagai macam bunga.
Surjan ontrokusuma hanya khusus sebagai pakaian para bangsawan Mataram, sedangkan pakaian seragam bagi aparat kerajaan hingga prajurit, surjan seragamnya menggunakan bahan kain lurik dalam negeri, dengan motif lurik (garis-garis lurus). Untuk membedakan jenjang jabatan/kedudukan pemakainya, ditandai atau dibedakan dari besar-kecilnya motif lurik, warna dasar kain lurik dan warna-warni luriknya. Semakin besar luriknya berarti semakin tinggi jabatannya; atau semakin kecil luriknya berarti semakin rendah jabatannya. Demikian pula warna dasar kain dan warna-warni luriknya akan menunjukkan pangkat (derajat/martabat) sesuai gelar kebangsawanannya. Pakaian Takwa ini di dalam Kraton hanya dipakai oleh Sri Sultan dan Pangeran Putra Dalem. Sedang pakaian takwa untuk putri (Pengageman Janggan) dikenakan untuk Para Abdi Dalem Putri dan Keparak Para Gusti dengan warna kain hitam.
Beberapa Macam Corak Lurik

Corak Surjan Telu Papat
Meskipun motif lurik ini hanya berupa garisgaris, namun variasinya sangat banyak. Terdapat banyak ragam motif kain lurik tradisional, seperti yang ditulis oleh Nian S.Djoemena (2000) mengenai nama-nama corak, yaitu antara lain: corak klenting kuning, sodo sakler, lasem, tuluh watu, lompong keli, kinanti, kembang telo, kembang mindi, melati secontong, ketan ireng, ketan salak, dom ndlesep, loro-pat, kembang bayam, jaran dawuk, kijing miring, kunang sekebon, dan sebagainya. Dalam Ensiklopedi Indonesia (1997) disebutkan pula beberapa motif seperti ketan ireng, gadung mlati, tumenggungan, dan bribil. Dalam perkembangannya muncul motif- motif lurik baru yaitu: yuyu sekandang, sulur ringin, lintang kumelap, polos abang, polos putih, dan masih banyak lagi. Motif yang paling mutahir adalah motif hujan gerimis, tenun ikat, dam mimi, dan galer.

Dahulu macam ragam corak lurik sangat banyak, tetapi sekarang banyak yang sudah terlupakan. Tidak semua orang termasuk para perajin lurik yang ada sekarang ini tahu dan ingat motif apa saja yang pernah ada, seperti yang dialami oleh Pak Dibyo. Saat ini perusahaan tenun lurik seperti milik Bapak Dibyo Sumarto, yaitu perusahaan tenun lurik Kurnia tidak membuat motif lurik seperti yang disebutkan di atas, karena peminatnya tidak ada lagi. Motif-motif lurik yang sekarang dibuat lebih bervariasi, disesuaikan dengan warna-warna yang sedang disukai atau sedang trend. Jadi, motif atau corak lurik yang ia buat cenderung selalu berubah dan makin berkembang. Beberapa motif disesuaikan dengan yang dikehendaki oleh para pembeli. Begitu pula dengan perusahaan tenun lurik yang dikelola oleh Ibu Nur. Beliau bahkan tidak banyak membuat motif tenun jika tidak ada pesanan. Beberapa kain lurik ia buat saat ini lebih banyak untuk seragam sekolah dan selendang. Begitu pula dengan perusahaan tenun Kurnia yang lebih banyak mendapatkan pesanan dari sekolah-sekolah yang membutuhkan seragam. Selain itu pembelinya kebanyakan dari siswa sekolah yang sedang praktek tata busana.

Namun demikian, perusahaan tenun ini masih membuat beberapa kain lurik tradisional yang masih dipakai dari jaman dulu hingga sekarang, yaitu yang dipakai di lingkungan keraton seperti yang dikenakan oleh para abdi dalem dan para prajuritnya. Motif yang dipakai para abdi dalem kerajaan tersebut dinamakan corak telu-pat atau tiga empat dalam bahasa Indonesia. Pakaian dengan motif ini dinamakan baju peranakan. Baju ini dikenakan oleh mereka ketika sowan atau caos (menghadap raja).

lain kluwung, gedog madu, sulur ringin, atau tuluh watu. Selain itu, ada pula motif lurik lain yang juga hanya digunakan oleh orang-orang tertentu pada waktu tertentu pula, yaitu yang dikenakan oleh abdi dalem dan para punggawa keraton. Ketika menghadiri pisowanan (mengahadap raja), para abdi dalem memakai baju peranakan dengan motif telu pat, sedangkan para prajurit keraton masingmasing juga memakai motif lurik yang telah ditentukan. Prajurit Jogokaryan memakai motif Jogokaryo, prajurit Mantrijeron memakai motif mantrijero, begitu pula dengan prajurit Patangpuluhan memakai motif patangpuluh. Seperti yang diutarakan oleh Pak Dibyo bahwa "Motif keraton memang memiliki corak tersendiri. Ada yang me-namakannya lurik tiga empat, untuk para abdi dalem. Nama motifnya yaitu tiga empat, untuk per-anakan...prajurit keraton antara lain mantrijero, jogo-karyo, patangpuluh. Motifnya sendiri-sendiri. Motif untuk abdi dalem untuk caos atau sowan yaitu motif tiga empat." Motif lurik untuk prajurit kraton lainnya adalah motif ketanggung yaitu yang dikenakan oleh prajurit Ketanggungan. Mengenai motif yang tidak boleh dipakai oleh setiap orang dikatakan oleh Ibu Nur, "Ya seperti yang dipakai oleh para abdi dalem, peranakan, hanya dipakai oleh kalangan keraton. Tidak bisa dipakai umum."
Namun saat ini, menurut apa yang dituturkan oleh Pak Dibyo, bahwa para pembeli bebas memilih motif mana yang dikehendaki. Pembeli boleh memakai kain lurik dengan berbagai macam corak, entah itu yang semestinya di pakai untuk sowan atau caos, ataupun yang digunakan untuk prajurit keraton. Untuk saat ini, biasanya motif lurik yang tidak boleh dikenakan atau dijual untuk umum yaitu yang dipakai untuk seragam sekolah, karena motif tersebut sudah merupakan identitas atau ciri khas sekolah yang bersangkutan.


Sumber : Djoemena, Nian S., 2000; Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997);  Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990); Kamus Lengkap Bahasa Jawa(Mangunsuwito:20 02); K.R.T. Jatiningrat, 2008, Rasukan Takwa lan Pranakan ing Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta: Tepas Dwarapura Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.)

Wednesday, May 24, 2017

MACAM-MACAM ACARA MEMAKAI SESAJEN

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai sesajen atau sesaji, maka kita bahas lebih dulu apa sebenarnya dan makna yang tersimpan dari sesajen tersebut,agar kita lebih mengenal ilmu dan manfaat juga tujuannya, bukan karena ikut2n atau katanya, berikut ulasannya.

Sesajen
Mengapa seorang Kejawen Sejati memberikan Sesajen?

Hal ini dikarenakan oleh tata krama sopan santun kepada Pihak Lain (Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, Orang Lain, dlsb), yang harus dicerminkan oleh seorang Kejawen.

Analoginya, dengan kita menyembah Ghusti, tidak berarti kita tidak menyuguhkan kenalan atau tetangga kita yang berkunjung ke rumah kita. Dalam kehidupan ini, Agama mana yang tidak mempercayai alam gaib, atau kehidupan lain di bumi ini? Dalam Kedjawen, kepercayaan itu dituangkan pula dalam pola sopan santun kepada “Mahluk Halus” yang termasuk dalam kategori Pihak Lain (Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, Orang Lain, dlsb) yang ada di sekitar kita.

Atau sebaliknya, jika kita menyuguhkan sajian kepada tamu kita yang datang ke rumah kita, apakah artinya kita menyembah tamu kita tersebut?
Jawabannya; tentu tidak khan!

Mengapa malam Jumat?

Seorang Kejawen mempercayai, bahwa malam Jumat adalah malam dimana para “Sesepuh” (baik itu mahluk halus maupun orang tua/saudara/kerabat yang sudah tidak ada) mengunjungi anak wayahnya.

Apa yang disuguhkan?

Untuk menghormati para “Sesepuh”, kita sebaiknya menyuguhkan hidangan seperti layaknya menyuguhkan tamu kita, minuman (Teh atau Kopi - tidak menutup kemungkinan jika kita juga ingin menyediakan rokok, bunga melati - sebagai wangi-wangian, dlsb) sebagai simbol penghormatan kita kepada para “Sesepuh” atau tamu kita. Jadi, hal ini merupakan bentuk sopan santun kita kepada para “Sesepuh”, maupun "Mahluk Halus" yang kita rasa sering berkunjung ke rumah kita.

Mengapa disebut Sesepuh?

Karena mereka umumnya mempunyai umur yang jauh di atas kita. Sehingga mereka layak disebut "Sesepuh". Begitu juga Kakek Buyut kita atau Orang Tua kita yang sudah meninggal. Dimana mereka selalu menengok anak cucu-nya pada malam Jumat.

Jadi kita tidak menyembah Sesepuh kita melebihi Ghusti?

Absolut tidak. Kalau dibalik dengan pertanyaan. Apakah Anda menyuguhkan kenalan Anda waktu mereka bertamu ke rumah Anda, berarti Anda menyembah tamu Anda?

Mengapa waktu memberikan Sesajen, bersikap seolah menyembah?

Ini memang ada kesalahan gesture antara menyembah Ghusti, dengan memberi hormat kepada “Sesepuh”.

Sebenarnya dalam Kejawen menyembah Ghusti, tangan diletakan diatas kepala atau bersentuhan dengan dahi.
Yang memiliki makna; Posisi Ghusti adalah absolut di atas segala-galanya

Sedangkan untuk memberi salam hormat kepada “Sesepuh” tangan/jempol menyentuh dagu. Yang memiliki makna; bahwa seorang Kejawen tidak boleh berbuat sembrono/sembarangan (baik prilaku maupun bertutur kata), kepada orang atau mahluk yang lebih sepuh.

Sementara memberi salam hormat kepada sesama adalah dengan tangan/jempol menyentuh dada.
Yang memiliki makna; bahwa seorang kejawen menghormati sesamanya, dengan hati yang tulus dan ikhlas

Demikian yang ingin saya bagikan:

Masyarakat Jawa masih mengenal apa yang disebut sebagai sajen atau sesaji, dan masih ada yang meneruskan tradisi tersebut. Namun, tradisi sajen oleh sebagian masyarakat modern dianggap sebagai klenik, mistis, irasional, dan segala jenis sebutan lain yang berkesan negatif. Hanya sedikit orang yang melihatnya sebagai bentuk lain dari doa. Dengan kata lain, sesaji adalah wujud dari sistem religi masyarakat Jawa. atau keluhuran budi pekerti dari orang jawa dalam menghormati juga menjalin tali silaturahmi kepada Gusti, sesepuh,alam, makhluk lain dan sesamanya terjalin kerukunan yang baik.

Berikut ragam jenis acara yang menggunakan sesaji di dalamnya.

Ada beragam jenis sesaji dalam kehidupan masyarakat Jawa. Ragam sesaji tersebut mewakili siklus kehidupan manusia Jawa, yaitu: metu-manten-mati (kelahiran-pernikahan-kematian). Kesemuanya mempunyai makna sebagai simbol doa dan harapan.

Sajen Kelahiran

Didalam menyambut kelahiran jabang bayi, ada tiga prosesi sesajen yang hadir dalam acara selamatan berikut ulasanya :

Brokohan
Sajen Brokohan
Sajen ini diwujudkan dalam bentuk sesaji berupa kelapa tidak utuh, gula jawa tidak utuh, cendol atau dawet dalam periuk kecil, dan telur bebek mentah. Di samping itu, juga terdapat sesaji yang berupa sepasang ayam dewasa yang diletakkan dalam kurungan kranji. Makna sajen brokohan merupakan manifestasi dari siklus manusia ketika masih di dalam rahim Sang Ilahi. Sebelum terbentuk, embrio berasal dari pertemuan benih laki-laki yang berupa sperma (dalam bahasa Jawa kuno disebut sukra) dengan benih perempuan yang berupa sel telur (atau swanita). Kelapa tidak utuh merupakan simbol sel sperma, sedangkan gula jawa adalah simbol sel telur. Ketika keduanya bertemu muncullah bibit kehidupan atau embrio, yang disimbolkan dengan cendol atau dawet dalam periuk kecil. Menurut orang Jawa, roh dari embrio-embrio ini masih berada di alam awang-uwung atau langit biru, disimbolkan dengan telur bebek yang kulitnya berwarna biru langit. Siklus manusia yang masih berada di dalam rahim Sang Ilahi belum bebas adanya, disimbolkan oleh sepasang ayam dewasa dalam kurungan kranji.
Sajen Pisang Sanggan
Sajen ini diwujudkan dalam bentuk pisang raja setangkep (dua sisir) yang buahnya berjumlah genap pada masing-masing sisirnya. Di atasnya terdapat kembang telon (kanthil, melati, kenanga), seikat benang lawe, dan ubarampe kinang atau ganten (daun sirih, enjet/kapur, gambir, susur/tembakau, buah jambe, dan daun sogok telik), masing-masing diletakkan dalam sebuah takir dan ditambah dengan boreh. Makna sajen pisang sanggan dan kembang telon adalah ketika sudah mencapai bulan kelahiran, maka jabang bayi akan lahir ke dunia. Ceritanya, saat Batara Guru telah mendapatkan air amerta (air kehidupan) dari hasil mengaduk-aduk laut, maka yang digambarkan adalah wujud dunia ini, yang kemudian disimbolkan dengan pisang raja. Orang Jawa kuno sudah beranggapan bahwa, bumi ini bulat tanpa ujung pangkalnya. Sedangkan sesaji kembang telon, melati, kanthil, dan kenanga merupakan perwujudan dari ketiga dunia ini. Paham Jawa Kuno mengenal adanya tiga dunia, yaitu dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Sesaji dalam wujud ubarampe kinang dan boreh bermakna bahwa bayi yang lahir pasti disambut dengan suasana suka cita seperti makan kinang akan merasakan manis. Begitulah gambaran manusia hidup di bumi dalam mencari hidup selalu ada pergulatan dan kesulitan, untuk meraih suatu kebahagiaan dari tujuan hidup.
Sajen Tumpeng Gundhul
Sajen ini diwujudkan dalam bentuk tumpeng tanpa dihiasi dengan ubarampe apa pun. Wujudnya putih polos, dengan dikelilingi tujuh variasi jenang dalam tujuh wadah takir, misalnya jenang putih, jenang abang, jenang putih palang jenang abang, jenang putih sedikit jenang abang, jenang boro-boro (jenang putih diberi parutan kelapa dan irisan gula jawa) dan separo jenang abang dan putih. Semuanya ditempatkan dalam ‘nyiru’ tampah. Sajen ini sebagai simbol dari bayi yang lahir ke dunia masih dalam keadaan polos, bersih, dan suci lahir batin. Ia lahir ke dunia belum mempunyai apa-apa dan belum ada apa-apanya. Yang ia miliki hanyalah jiwa raga yang melekat pada dirinya. Ketujuh jenang mempunyai makna bahwa saat kelahiran bayi, ia akan selalu disertai oleh tujuh saudara dalam kehidupannya. Ketujuh saudaranya (dalam tradisi Jawa kuno) itu berasal dari darah nifas, air kawah, kotoran, ari-ari, dan lain-lain.

Sajen Pernikahan

Berikut sesajen yang hadir dalam prosesi acara selamatan pernikahan antara lain :

Sego Punar
Sajen Sega Punar
Sajen ini diwujudkan dalam bentuk nasi kuning yang dilengkapi dengan lauk pauk, seperti abon, kedelai hitam, bawang merah goreng, ayam goreng, irisan telur dadar, sambal goreng, mentimun, dan daun kemangi. Semuanya diletakkan dalam tampah 'nyiru'. Sajen ini adalah gambaran bersatunya dua hati perempuan dan laki-laki dalam ikatan perkawinan. Keduanya diharapkan dapat seiring sejalan dan harmonis dalam membangun rumah tangga dan saat terjun di dalam masyarakat. Rasa egois harus ditinggalkan jauh-jauh, mereka harus dapat menerima apa adanya, menerima kekurangan masing-masing dan berusaha melengkapinya, sehingga menjadi satu kelebihan. Sajen sega punar ini dalam setiap upacara panggih manten Jawa selalu disertakan dalam acara dhahar walimah, yang menggambarkan bersatunya dua hati menjadi satu ikatan batin yang utuh.
Sajen Sega Kebuli
Sajen diwujudkan dalam bentuk nasi putih dengan lauk pauk seperti telur ceplok, abon, ayam goreng, sambel goreng, krupuk udang, mentimun, dan daun kemangi. Semuanya ditempatkan dalam sebuah tampah 'nyiru'. Konon, nasi kebuli berasal dari budaya Timur Tengah. Makna sajen ini adalah menggambarkan perjalanan hidup suami istri yang diharapkan selalu dalam keadaan selamat, mendapat berkah dari Tuhan, dan segala permohonan dan harapannya terkabulkan oleh Tuhan. Setelah pernikahan terjadi, keduanya pasti selalu memohon kepada Tuhan, agar di dalam melaksanakan kehidupan mendapat rahmat, terhindar dari segala mara bahaya dan mudah mendapat rezeki.
Sajen Sega Golong
Sajen ini diwujudkan dalam bentuk sesajian yang berupa dua buah nasi golong, yang masing-masing diselimuti atau dibalut dengan telur dadar, pecel panggang ayam, daun kemangi, dilengkapi dengan jangan menir (sayur menir) dan jangan padhamara. Khusus jangan menir dan jangan padhamara, masing-masing ditempatkan terlebih dahulu dalam cuwo/cowek (cobek) yang terbuat dari gerabah. Baru kemudian semua sajen ditempatkan dalam sebuah tampah 'nyiru'. Makna sajen ini adalah menggambarkan kedua insan yang mempunyai niat saling membantu dalam membangun mahligai rumah tangga. Begitu pula dalam kebutuhan lahir batin, mereka saling mengisi, saling memberi dan menerima. Istilah golong lulut dalam bahasa Jawa Kuno mengacu pada hubungan suami istri atau intercourse. Oleh karena itu, sega golong yang diselimuti oleh telur dadar sebagai simbol hubungan suami istri tersebut.

Sajen Kematian

Didalam prosesi acara kematian juga terdapat beberapa sesajen yang dihadirkan, berikut sesajen tersebut :

Sajen Kolak Ketan
Sajen Ketan Kolak
Sajen ini diwujudkan dalam bentuk sesajian yang berupa tujuh buah apem, ketan, dan kolak (pisang dan ketela). Semuanya ditempatkan di dalam tampah 'nyiru' yang telah diberi alas daun pisang. Makna sajen ketan kolak ini menggambarkan seseorang yang telah meninggal dunia dan siap kembali menyatu dengan Sang Ilahi. Agar dapat tercapai dengan selamat dan sempurna di sisi-Nya, dan arwahnya tidak nglambrang atau pergi tak tentu arah, maka disimbolkan dengan sajen ketan kolak apem. Sajen ini juga sering dijumpai pada saat tradisi ruwahan, yang intinya memohon kepada Tuhan agar arwah orang yang diselamati dapat kembali kepada Sang Ilahi dan tidak nglambrang atau gentayangan.
Sajen Kendhi
Sajen ini diwujudkan dalam bentuk sesajian berupa kendi ditutup dengan daun dhadhap serep. Air tempuran adalah pertemuan dua arus sungai. Makna sajen ini adalah menggambarkan sudah pulangnya kembali arwah yang sudah meninggal di sisi Sang Ilahi, seperti sebelum dilahirkan. Dengan demikian, diharapkan arwah tersebut dapat kembali menuju ke alam kelanggengan, atau dunia yang kekal abadi.
Sajen untuk alam

Prosesi sesajen yang ditujukan untuk lama antara lain sebagai berikut :

Sedekah Laut
Sedekah Bumi
Sedekah bumi atau kabumi pada mulanya merupakan salah kegiatan upacara tradisional yang banyak dilakukan oleh masyarakat agraris di desa-desa. Sebagai perwujudan rasa syukur mereka kepada sang Pencipta atas hasil pertanian melimpah. Upacara tradisional ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali, pada bulan apit  (Dzul Qa’dah) bertepatan pada hari ahad kliwon. Nilai-nilai budaya dan kearifan tradisional ini terbukti merupakan benteng yang mampu menjaga prilaku manusia untuk hidup selaras dan dengan alam dan lingkungannya. Pada sisi lain dampak negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta arus informasi ang mengglobal telah menyebabkan kegamangan dan kegagapan sosial. Tujuan tradisi Sedekah Bumi adalah memberikan persembahan dan penghormatan yang berupa sesaji hasil bumi yang ditunjukkan kepada sang maha pencipta yang telah menjaga bumi pertiwi yang ditempati dalam keadaan aman, tenteram, sejahtera dan jauh dari segala macam persoalan-persoalan dan masalah. Serta diadakan karena ingin mengucapkan rasa syukur atas rizky yang telah diberikan.
Berikut uborampe atau Peralatan yang wajib ada pada saat upacara sedekah bumi antara lain :
1.      Ikan hidup (ikan lele, munjair, emas dll)
Ikan tersebut yang wajib membawa ialah kepala desa, ikan tersebut akan dilepas di sendang. Ikan dianggap mampu memberikan banyak manfaat dan berkah bagi warga Pakis.
2.      Daging ayam yang di ingkung
Daging ayam juga wajib dibawa oleh kepala desa, daging ayam akan di makan bersa-sama dengan warga saat acara selamatan di sendang. Makan bersama merupakan rasa syukur warga Pakis atas hasil panen selama setahun.
3.      Nasi putih dalam baskom
Bagi semua warga yang ada dalam acara tersebut wajib membawa nasi untuk selamatan. Nasi putih merupakan makanan pokok warga pakis dan juga salah satu panen yang paling melimpah ialah padi.
4.      Sate daging (sapi, kerbau)
Sate merupakan hal yang diutamakan oleh warga karena dianggap memberikan berkah.
5.      Takir (berisi nasi, rempeyek, tumisan, dll)
Takir akan ditinggal di sendang, konon katanya untuk makanan orang yang menunggu sendang tersebut.
6.      Tikar
Tikar dari pohon padan yang wajib dibawa oleh kepala desa. Tikar digunakan untuk tempat sesaji yang telah dibawa kepala desa.
7.      Warga harus meneteskan darah hewan dalam tanah
Hal tesebut ditujukan kepada bumi yang telah mati. Jadi setiap warga wajib meneteskan darah hewan baik itu ikan, ayam, dan darah hewan lainnya yang bisa dimakan manusia.
Perlengkapan tambahan yang tidak kalah pentingnya untuk dibawa saat acara berlangsung ialah:
1.      Jajan pasar
Jajan pasar sudah menjadi makanan pelengkap acara sedekah bumi, dan jajan pasarlah yang menjadi makanan enak ketika acara sedekah bumi, karena jarang sekali jajanan pasar ada setiap hari.
2.      Nasi ketan
Banyak orang-orang yang menjadikan nasi ketan sebagai makanan tambahan, setelah nasi putih.
3.      Makanan tradisional
Makanan yang dinanti-nanti ketika selamatan, biasanya isinya ada bugis, nagasari, lemper dll.
4.      Polo pendem dan polo kesimpar
                   Makanan yang berasal dari umbi-umbian seperti singkong telo, pohon atau rambat,dan
                   makanan yang ada tumbuh diatas tanah seperti kacang panjang kedelai dll.

Sedekah laut
Tradisi sedekah laut adalah membuang/ melarung/ menghayutkan sesaji ke laut dengan maksud memberikan makanan/ berbagi berkah dari hasil masyarakat kepada yang mbaurekso atau penguasa laut. Upacara Sedekah Laut merupakan upacara tradisional masyarakat nelayan/ masyarakat pesisir sebagai ungkapan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kemudahan dan rejeki dari hasil laut yang telah diberikan selama satu, biasanya dilaksanakan pada setiap tahun Bulan Syuro/Muharam pada hari Selasa Kliwon atau Jum’at Kliwon.
Ubo rampe yang ada dalam sedekah laut antara lain :
 a. Perahu tempel, yang nantinya dipakai untuk membawa sesaji yang akan dilabuh ke          ketengah laut
b. Ancak, dari belahan bambu yang dianyam dengan bentuk segi empat untuk tempat           sesaji
c. Jodhang, terbuat dari kayu yang dibuat empat persegi panjang untuk mengangkut             sesaji yang akan dibawa ke pesisir laut
d. Tampah/tambir, bentuknya bulat dari anyaman bambu untuk tempat sesaji
e. Pengaron, terbuat dari tanah liat untuk tempat nasi
f. Takir, terbuat dari daun pisang yang dibentuk lalu pada kedua ujungnya diberi janur         atau daun nyiur muda untuk tempat jenang sesaji
g. Ceketong, terbuat daun pisang untuk sendok.
   Sesajinya ada bermacam-macam Sesaji yang khusus untuk Kanjeng Ratu Kidul yang nantinya dilabuh, yaitu:
a. Bunga Telon, terdiri dari mawar, melati, kantil, kenanga dan sebagainya
b. Alat-alat kecantikan khusus wanita meliputi bedhak, sisir, minyak wangi, pensil alis,       dan sebagainya
c. Pakaian sak pengadek atau lengkap wanita, ada baju, celana, BH, kebaya yang                 semuanya harus baru,

d. Jenang-jenangan, yang berwarna merah, putih, hitam, palang katul, dan sebagainya,
e. Jajan pasar, yaitu makanan kecil-kecilan seperti kacang, lempeng, slondok, dan                 sebagainya yang dibeli di pasar
f. Nasi udhuk atau nasi gurih, beras yang dimasak bersama santan, garam, dan                       sebagainya,
g. Ayam ingkung, ayam jantan yang dimasak utuh dengan kedua kaki dan sayap diikat,
h. Pisang sanggan, dari pisang raja yang berjumlah genap,
i. Pisang raja pulut, sesisir pisang raja dan sesisir pulut,
j. Lauk pauk, terdiri dari rempeyek, krupuk, kedelai, tanto dan sebagainya,
k. Lalapan, terdiri dari kol, buncis yang dirajang halus.
Sekian sedikit penjelasan dari saya semoga menjadi manfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk para pembaca, terima kasih


Sumber : Buletin CITRA SOLO edisi 03/V/2011 hal. 10 – 11

Tuesday, May 23, 2017

TANGGAL DAN SEPASARAN





Nama Anda
Tgl. Lahir Anda

Monday, May 22, 2017

FILOSOFI DALAM SESAJEN


SESAJEN ADALAH 

Sesajen
Pemberian sesajen ini tidak ada kaitannya dengan memberi makan jin, danyang, setan atau sebangsanya. Tetapi sesajen dalam arti yang sebenarnya adalah menyajikan hasil bumi yang telah diolah oleh manusia atas kemurahan Tuhan Penguasa Kehidupan. Mengingatkan kita bahwa ini semua adalah milik Tuhan. Selama ini kita tidak turut memiliki namun hanya memanennya saja. Karena semuanya sudah ada ketika kita mulai diberi kehidupan. Juga menggambarkan lingkungan biotik dan abiotik yang ada terkandung di pada bumi, Segala yang kita ambil, kita rawat, kita tanam, kita olah sebenarnya adalah sasuatu yang sudah ada. Walaupun sudah kita olah, kita tanam dengan tekun dan kasih sayang menurut aturan, namun terkadang hasilnya masih kurang bahkan mati.

Sesajen hanya berwujud segala sesuatu yang dihasilkan oleh bumi. Utamanya yang berupa pepohonan, buah-buahan dan sumber makanan yang lain. Selain itu juga sesajen juga mempunyai arti menurut wujud, rupa, warna dan namanya sesuai pengertian yang diketahui oleh orang Jawa jaman dahulu. Jadi sesaji ini yang terutama berupa makanan adalah untuk siapa saja yang hadir di tempat ini. Kita berkumpul di sini memberi gambaran akan rasa kebersamaan dan persatuan di antara kita.
Isi sesajen berdasarkan unsur-unsur biotik dan abiotik

A. BIOTIK

Dari tumbuhan

Tumpeng
  • Makanan pokok
  1. Padi, gabah, beras, nasi (tumpeng) : melambangkan ketuntasan dan kesempurnaan. Kalau kita melakukan sesuatu harus dengan tuntas dan tidak setengah-setengah.
  2. Nasi tumpeng. Kata “tumpeng” berasal dari kata TUMUNGKULO SING MEMPENG, artinya kalau kita ingin selamat, hendaknya kita selalu rajin beribadah. Sedangkan bentuk kerucut pada tumpeng mengartikan bahwa semakin hari kita harus senantiasa ingat kepada Tuhan dan tumpeng juga sebagai penjelmaan alam semesta dimana nasi berwujud gunung dikelilingi oleh hasil bumi berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan darat/air.
  3. Bubur panca warna : bubur beras merah, ketan hitam, bubur jagung, ketan putih, kacang hijau. Ditempatkan di 4 penjuru mata angin, 1 di tengah. Melambangkan sifat/elemen alam (air, api, udara, tanah, teja (angkasa))
  4. Karak/rengginang merupakan produk makanan turunan dari padi
  5. Lauk pauk (orem-orem tempe tahu, perkedel dll) menggambarkan tumbuhan-tumbuhan yang dapat dijadikan lauk pauk
  6. Sayur-sayuran (urap-urap) melambangkan urip, urup, urap. Urip artinya kita harus sadar darimana kita hidup, apa yang dikerjakan selama hidup, dan kemanakah tujuan setelah mati. Urup artinya kita selama hidup harus mempunyai arti bagi sesama, lingkungan, agama, bangsa dan negara. urap artinya kita dalam bermasyarakat harus bisa berbaur dengan siapa saja. Bila kita melakukan 3 hal di atas, maka hidupnya akan tenteram
  7. Sayur kluwih (seperti nangka) melambangkan harapan agar rejeki kita bisa berlebih (luwih)
  8. Jajanan pasar : menggambarkan kerukunan walaupun ada perbedaan, tenggang rasa.
  9. Polo pendem (sesuatu yang tumbuh di dalam tanah-singkong dll), polo gumantung (sesuatu yang tumbuh di pohon (pepaya dll), polo kesimpar (sesuatu yang tumbuh di atas tanah (semangka dll). Semuanya melambangkan keadaan manusia, apa yang ada dalam pikiran, angan-angan, akal dan tata cara. Dalam mewujudkan keinginan kita tidak boleh gegabah, tapi harus dipikirkan secara matang. Selalu menyenangkan hati orang lain dan dapat dibanggakan oleh orang tua, yang diartikan “mendem jero, mikul dhuwur” (memendam yang di bawah, memikul yang di atas)
  10. Bumbu mentah jenis akar atau umbi, biji, kulit, daun, bunga : tumbuh-tumbuhan yang berguna sebagai bumbu masak
  11. Bahan obat/herbal menggambarkan bahwa tumbuh-tumbuhan juga mempunyai fungsi sebagai bahan obat-obatan.
  12. Pisang raja gandeng seperti supit : pisang raja melambangkan supaya cita-cita kita yang senantiasa luhur agar dapat membangun bangsa dan negara
  13. Kelapa : tumbuhan yang seluruh bagiannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia,
  14. Sirih, pinang, tembakau, jambe : orang-orang Jawa jaman dahulu menggunakan tumbuh-tumbuhan ini untuk memperkuat gigi dan filosofinya adalah agar kita tidak bertutur kata sembarangan
  15. Kembang setaman : melambangkan raga manusia (lahir, tumbuh, mati) juga melambangkan kerukunan
  16. Daun pisang sebagai pembungkus (dinamakan “takir” atau tatag pikir) artinya bahwa manusia dalam bertindak harus mantap dan tidak boleh ragu-ragu. Daun jati bermanfaat sebagai pembungkus makanan, lebih kuat daripada daun pisang dan berfungsi sebagai pewarna makanan alami
  17. Badek (air ketan) : turunan dari beras, rasanya manis, menggambarkan kenyamanan hidup
  18. Rokok klobot melambangkan kebutuhan sekunder manusia. Bila ada pertemuan
  19. Pisang raja talun setandan merupakan lambang keberhasilan. Maksudnya agar kita mempunyai tujuan hidup atau cita-cita yang berguna bagi nusa, bangsa, dan sesama serta berusaha meraihnya sampai berhasil.
  20. Sekat padi melambangkan manusia yang berisi, baik lahir maupun batin.
  21. Buah-buahan, dari yang mentah sampai yang matang merupakan lambang dari proses pematangan diri manusia. Pematangan diri yang mengikuti proses alam dan tidak karbitan akan menghasilkan pribadi yang kuat. Berbagai macam daun, mulai daun kluwih, daun pohon beringin, daun andong dan puring, melambangkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, kita harus selalu ingat kepada-Nya dengan selalu melaksanakan segala perintah-Nya.
  22. Tebu wulung melambangkan kekuatan dan kemantapan batin. Diharapkan, budi pekerti dan kepribadian kita kukuh dan tegak seperti tanaman tebu tersebut.
  23. Janur kuning merupakan lambang cahaya terang. Agar kita selalu mendapatkan jalan yang lurus dan diridloi Allah dalam menjalani hidup ini. Tajali nur.
  24. Cengkir atau buah kelapa hijau dan kelapa gading yang masih muda, merupakan lambang keandalan pikiran dan kekuatan batin. Maksudnya, dalam bertindak, kita tidak boleh hanya mengandalkan pikiran dan fisik, tetapi juga hati dan akal budi.
  25. Kembang mayang melambangkan sepasang manusia yang mantap lahir batin dan siap menyemaikan bibit-bibit manusia unggul generasi berikutnya.
  26. Sekapur sirih melambangkan segala persoalan yang dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Maksud dari penyajian sekapur sirih ini adalah agar kita selalu siap dan kuat dalam menghadapi segala cobaan dan benturan dalam hidup.
  27. Kembang setaman adalah lambang sosialisasi diri. Maksudnya agar kita selalu berusaha menjaga harumnya nama diri, kerabat, dan teman.
  28. Kembang pancawarna yang terdiri dari melati, mawar merah, (kantil) gading putih, gading kuning, dan bunga kenanga, melambangkan cinta kasih yang selalu berkembang dan harum mewangi.
  29. Santan kanil (kental) merupakan lambang sari-sari kehidupan dan juga susu ibu. Dimaksudkan agar kita selalu mengingat jasa dan pengorbanan ibu yang telah melahirkan kita.
  30. Damar kembang dibuat dari kelapa yang sudah dibuang serabut dan batoknya, lalu dilubangi bagian yang merupakan bakal tunas, diisi dengan minyak kelapa dan diberi sumbu dari sobekan kain dan dinyalakan. Ini merupakan lambang kehidupan, dimaksudkan agar kita selalu mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang diridloi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
  • Dari hewan
Ingkung
  1. Ayam utuh dipanggang (Ingkung) melambangkan pengorbanan selama hidup, cinta kasih terhadap sesama juga melambangkan hasil bumi (hewan darat)
  2. Ikan melambangkan hasil bumi (hewan air). Ikan bandeng (berduri banyak) melambangkan rejeki berlimpah, ikan teri (yang hidupnya bergerombol) melambangkan kerukunan
  3. Telur melambangkan asal mula kehidupan, dan dalam kehidupan selalu ada 2 sisi kuning putih, laki perempuan, siang malam dll

B. ABIOTIK

Sesaji
  1. Air di kendi : artinya bahwa supaya kita selalu mempunyai hati suci dan bersih
  2. Air di gelas dan bunga : melambangkan air minum yang menjadi kebutuhan hidup manusia
  3. Minuman kopi pahit : melambangkan elemen air namun bukan suatu minuman pokok (kebutuhan sekunder), dan menjadi minuman “persaudaraan” bila ada perkumpulan/pertemuan
  4. Anglo dan arang dinyalakan melambangkan elemen alam berupa api yang berguna bagi kehidupan manusia
  5. Dupa kemenyan : artinya keharuman dan ketentraman juga sembah sujud dan penghantar doa kita pada Tuhan juga menunjukkan eksistensi udara yang bergerak
C. PUSAKA
Keris

  1. Taplak kain mori berwarna putih melambangkan kesucian. Dimaksudkan agar segala tindak tanduk kita didasarkan pada hati dan pikiran yang suci bersih, tidak dikotori oleh kecurigaan.
  2. Payung agung merupakan lambang perlindungan. Ditujukan kepada pamong atau pejabat agar selalu melindungi rakyatnya dari “hujan” dan “panas” kehidupan.
  3. Tombak melambangkan kewaspadaan. Kita diharapkan untuk selalu waspada dalam menghadapi segala kemungkinan yang mengancam kelangsungan hidup kita.
  4. Pusaka keris adalah lambang keberanian dan percaya diri. Berani dan percaya bahwa Tuhan akan menolong siapa pun yang menegakkan kebenaran.


Sumber : Buku Kejawen, wikipedia

MACAM-MACAM NASI (SEGO)

Sega atau sego adalah bahasa Jawa dari nasi. Sega dalam ranah budaya Jawa sering dijadikan ubo rampe atau pernak-pernik dalam sesaji. Ubo rampe atau pernak-pernik ini dimaksudkan untuk memohon atau mengirim doa pada para leluhur agar dosa dan kesalahannya diampuni oleh Gusti Allah SWT dan juga untuk memohon perlindungan pada Gusti Allah SWT. Sega dalam konteks budaya Jawa memiliki banyak macam yang mengandung makna yang berbeda dalam setiap macamnya.

Macam-macam sego/nasi itu antara lain :

  • Sega Gurih
Sego Gurih
Sega gurih atau sega wuduk adalah nasi putih yang dimasak dengan santan dan garam hingga rasanya menjadi gurih. Sega gurih biasa disebut juga dengan sega wuduk atau nasi wudlu. Ubo rampe ini dimaksudkan untuk mengirim doa kepaa Nabi Muhammad SAW karena pada zaman dulu Nabi Muhammad dipercaya makan nasi suci atau nasi wudlu. Oleh sebagian besar masyarakat, sega gurih ini diberi nama nasi Rasul.

  • Sega Giling

Sego Giling
Sega giling adalah nasi putih yang dibungkus daun pisang dan dilipat bagian ujung-ujungnya. Orang Jawa biasa menyebut ujung-ujung yang dilipat itu dengan dipenak. Ubo rampe sega giling ini dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih kepada penunggu atau istilah orang Jawa sing mbau rekso di desa, sawah atau tempat pertanian.

  • Sega Seredan
Sega seredan adalah nasi putih yang dibungkus daun pisang dan dilipat bagian ujungnya. Sega seredan ini bahannya sama dengan sega giling. Hal yang membedakan sega seredan dengan giling adalah ujung yang dilipat pada sega seredan hanya satu sedangkan sega giling kedua ujungnya sama-sama dilipat. Tujuan dari pembuatan sega seredan ini juga untuk menghormati para penunggu yang ada pada lingkungan pertanian masyarakat Jawa.

  • Sega Liwet
Sego Liwet
Ubo rampe nasi liwet berupa nasi yang ditanak. Meski namanya nasi liwet cara membuatnya tidak harus diliwet atau ditanak langsung diatas panci sampai bagian dasarnya membentuk kerak tetapi juga dapat dilakukan dengan cara dikukus. Penyajian biasanya dilakukan dengan menaruh nasi diatas daun pisang. Nasi liwet dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih kepada para penunggu di lingkup pertanian.

  • Sega Golong
Sego Golong
Sego Golong ini berupa nasi putih yang dibentuk bulatan seukuran bola tenis. Oleh nenek moyang orang Jawa, ubo rampe ini dimaksudkan untuk melambangkan kebulatan tekad yang manunggal atau golong gilig. Kebulatan tekad ini pada saat menggelar selamatan biasanya diistilahkan dengan tekad kang gumolong dadi sawiji atau tekad yang menjadi satu. Penyajian sego golong biasanya disajikan dalam pitung jodho atau tujuh pasang atau empat belas butir. Hal tersebut dimaksudkan untuk penghormatan kepada Kang Yasa Jagat atau Gusti Allah SWT yang menciptakan bumi dengan seisinya.

  • Sega Ambegan atau Sega Asahan
Sego Ambegan
Sega Ambegan atau Sega Asahan berupa nasi putih lengkap dengan lauk pauknya hanya saja lauk pauk yang disajikan harus serba kering dan wajib dilengkapi sambal Cabuk. Sambal Cabuk adalah sambal yang dibuat dari ampas buah wijen. Ubo rampe ini melambangkan suatu maksud agar arwah yang meninggal maupun sanak keluarga yang masih hidup kelak akan mendapat pambenganing pangeran atau selalu mendapat ampun atas segala dosanya dan diterima di sisiNya.

  • Sega Punar
Sego Punar
Sego Punar atau nasi kuning yaitu nasi yang dimasak dengan sedikit parutan kunyit sehingga berwarna kuning bersih. Sego Punar adalah simbol kebersihan. Makna nasi kuning adalah membersihkan sesuatu yang tidak baik. Sego punar terdiri dari sambal goreng kering, srundeng, lodho.

Sumber : WIKIPEDIA

Friday, May 12, 2017

SILAH-SILAHING TEMBUNG(JENIS2 KATA)

Silah-silahing Tembung ( Jenis Kata ) Ing Basa Jawa


Abdi
Miturut golonganing tembung ana 10 warna :

1.   Tembung Aran ( Kata Benda )
      Tuladha : Meja, kursi, lemari, radio lsp.

2.  Tembung Kriya ( Kata kerja )
     Tuladha : nulis, maca, nyapu, mangan, ngombe, lsp.

3.  Tembung ganti ( Kata ganti )
     Tuladha : aku, kowe, ku, dheweke, lsp.

4. Tembung wilangan ( Kata bilangan )
    Tuladha : telu, setengah, siji, akeh, lsp.

5.  Tembung sipat / kahanan ( Kata sifat )
     Tuladha : bagus, susah, apik, seneng, lsp.

6. Tembung Katrangan ( Kata keterangan )
    Tuladha : Tengah, kene, ndhuwur, wetan, lsp.

7.  Tembung seru / Pangguwuh ( Kata seru )
     Tuladha : Wah, aduh, tulung, eh, lsp.

8.  Tembung Sandhangan ( Kata sandang )
     Tuladha : Sang, Hyang, Raden, Kyai, lsp.

9. Tembung panyambung ( Kata sambung )
    Tuladha : Sarta, lan, wusana, mulane, lsp.

10.  Tembung Pangarep ( Kata depan )
       Tuladha : ing, saka, sing, menyang, lsp.


Sumber : Pepak Basa Jawa

SILAH-SILAHING UKARA(JENIS2 KALIMAT)

Silah-silahing Ukara Ing Basa Jawa


Abdi
Silah-silahing ukara sing perlu di weruhi ana 6 warna, yaiku :

1.   Ukara Kandha ( Kalimat Langsung )
      Yaiku ukara sing ngandhaake omongan liyan kanthi persis.
      Tuladha :
      Bapak ngendika, “Sesuk aku menyang Jogja”.
      “Kowe kudu sing sregep ngaji” dhawuhe ibu.


2.  Ukara  Crita ( Kalimat Tak Langsung )
     Yaiku ukara sing nyritakke omongan liyan mung sarine / Ringase bae.
     Tuladha :
     Tini takon, kena apa aku wingi ora mlebu sekolah.
     Ngendikane guru, yen sregep sinau mesthi pinter.


3.  Ukara Tindak / Tanduk ( Kalimat Aktif )
     Yaiku ukara sing jejere nindakake pagawean.
     Tuladha :
     Ibu mundhut jajan kanggo tukang.
     Rudi ngunduh jambu.


4.  Ukara Tanggap ( Kalimat Pasif )
     Yaiku ukara sing jejere dikenani pagawean.
     Tuladha :
     Sarunge di krikiti tikus.
     Jajane dirubung semut.


5.  Ukara Pakon ( Kalimat Perintah )
     Tuladha :
     Jupukna tasku ing dhuwur kursi kuwi.
     Balekna buku iki menyang omahe budi.


6.  Ukara Panjaluk ( Kalimat Permohonan )
     Tuladha :
     Coba kowe mreneya dak kandhani.
     Tulung aku penekna blimbing kuwi.


Katrangan :
Ukara kandha bisa didadekake ukara crita, lan ukara crita uga bisa didadekake ukara kandha.
Miturut medharake gagasan, ukara bisa di perang dadi 2 warna :

1.   Ukara lamba ( Kalimat Tunggal )
      Yaiku ukara sing medharake gagasab mung siji.
      Tuladha :
      Adhik tuku buku.
      Tono nunggang kebo


2.   Ukara Camboran ( Kalimat Majemuk )
      Yaiku ukara sing medharake gagasan luwih saka siji. Ukara camboran iku rangkepane ukara               lamba.
      Tuladha :
      Didi cethil nanging mbak yuni loma.
      Danu munggah kelas amarga sregep anggone sinau.


Sumber : Pepak Basa Jawa

Wednesday, May 10, 2017

TEMBUNG GARBAN(KATA SAMBUNG BERUBAH ARTI)

Tembung garban

abdi dalem
Tembung camboran kang sambungan (sandhi) né awujud wandamenga (basa Indonésia: suku kata terbuka) lan wanda aksara swara (vokal), tembung-tembung kasebut banjur bisa luluh (ginarba) dadi siji dadi swara anyar. Tembung iku banjur disebut tembung garban. 

Tuladha:

  • a + a = a
          Kusuma + astuti = kusumastuti
  • a + i = e
          Teka + ing = tekèng
          Ira + iku = irèku
  • a + e = e
         Warna + edi = warnèdi
  • a + u = o
         Wira + utama = wirotama
  • i + a (i,e,o,u) = y
          Sami + oncat = samyoncat
  • u + a (i,e,o,u) = w
         Tumuju + ing = tumujwèng

Sawetara ater-ater utawa panambang kang wanguné kaya wanda kasebut uga dadi sandhigarban.

Tuladha:

  • sa +ulah = solah
  • sami + a = samya
  • ke + legi + an = kelegèn

Sumber : Wikipedia

AYAHANE TEMBUNG (POSISI KATA)

Ayahane Tembung


Abdi dalem
Ayahane tembung utawa lungguhing tembung ing basa Indonesia diarani “jabatan kalimat”. Ngudhal ukara manut ayahane tembung ateges nggoleki parangane ukara sing diarani jejer, wasesa, lesan lan katrangan ( Ind: subyek, predikat, obyek dan keterangan).

Ayahane tembung atau posisi kata dalam bahasa Indonesia disebut "jabatan kalimat". jika di pisah menurut posisi kata menurut jenisnya, kata tersebut bisa terdiri dari subyek, predikat, objek, dan keterangan.

Tuladha :

Dodi tuku sepatu esok mau.
Dodi        = jejer
Tuku        = wasesa
Sepatu     = lesan
Esok mau = katrangan

Warna-warnane katrangan yaiku :

Katrangan wayah                      : esok, sore, saiki, bengi, lsp.
Katrangan cacah                       : lima, sethithik, akeh, arang, lsp.
Katrangan papan / panggonan  : ing dhuwur kursi, ing lapangan, lsp.
Katrangan ukur                         : abot, gedhe, cedhak, dawa, lsp.
Katrangan sebab                       : jalaran lunga, amarga lara, amarga isih cilik, lsp.
Katrangan maksud / ancas        : supaya resik, supaya padhang, kareben waras, lsp.
Katrangan kahanan                   : reged, kasar, lurus, resik, lsp.

Sumber : Pepak Basa Jawa.